Sponsored by

Senin, 04 Desember 2017

Disebut Anti Pancasila, Warga Hindu Bali Tolak Kedatangan Ustadz Abdul Somad



Fitnah keji yang menimpa Ustadz Abdul Somad seperti tidak ada habisnya. Setelah diributkan masalah hidung pesek, kini ustadz sejuta umat tersebut difitnah sebagai Anti Pancasila.

Tidak tanggung-tanggung, salah satu yang menentang keras Safari Dakwah Ustadz Abdul Somad di Bali pada 8 - 10 Desember tersebut adalah Dr Arya Wedakarna. Anggota DPD RI asal Bali itu beralasan, Bali menolak oknum dengan agenda anti Pancasila.

“Siapapun boleh datang ke Bali, Pulau Seribu Pura, bahkan Raja Arab Saudi saja tidak masalah datang ke Bali untuk berlibur asal tanpa agenda politik terselubung. Tapi tentu Bali menolak jika ada oknum siapapun yang datang ke Pulau Dewata dengan agenda anti Pancasila. Ngiring kawal NKRI dan Tolak Agenda Khilafah tersosialisasi di Bali,” kata Wedakarna melalui fan page Facebook @dr.aryawedakarna, Jumat (1/12/2017).

Wedakarna menyebut, penolakan itu merupakan aspirasi masyarakat Bali yang sudah viral di medsos beberapa hari sebelumnya. Ia menyertakan screenshoot postingan Instagram @creme_de_violette yang berjudul “Jangan biarkan mereka meracuni Bali 😖 Waspadalah wahai saudara2ku di Bali, jangan sampai Bali menjadi Majapahit kedua.”

Wedakarna juga menyampaikan terima kasih kepada LSM dan Kelompok Hindu Bali yang sudah bersuara terkait penolakan Ustadz Abdul Somad. “Dan saatnya bersatu amankan Bali,” tandasnya.

Ia juga meminta Polri memeriksa penyelenggara Safari Dakwah Ustadz Abdul Somad.

“Untuk aparat Polri, mohon diperiksa siapa penyelenggara program ini? Dan apa motif panitia lokal di Bali untuk mengundang atau mau menerima sosok yang tidak disukai oleh umat Hindu sebagai mayoritas? Apa ada skenario adu domba umat? Selain itu dari agenda mereka ada terera ada kegiatan di tempat ibadah di tengah kompleks TNI di Jl Sudirman Denpasar, apakah program ini tidak masuk radar Jajaran TNI baik Kodam atau Korem? Jangan lupa bahwa umat Hindu masih menunggu tindaklanjut kasus pelecehan pecalang oleh M pentolan ormas agama dan kasus penghinaan Hindu oleh ES. Semoga segera diklarifikasi,” pungkasnya.

Menobatkan Diri Sebagai Raja Majapahit Bali dan Tolak Ekonomi Syariah

Siapakah sosok Wedhakarna? Pria kelahiran 23 Agustus 1980 ini memperkenalkan dirinya dengan nama DR. Shri IGN Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputera Suyasa. Putra dari Shri Wedastera Suyasa dan Suwitri Suyasa ini pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial Politik di Universitas Trisakti.

Saat ini dia menjabat sebagai Rektor Universitas Mahendradatta Bali, President The Sukarno Center, President The Hindu Center Indonesia.

Karirnya berawal sebagai model cover boy di Majalah Aneka Jakarta pada 1997.

Namun, namanya mulai dikenal secara nasional setelah memprotes sampul novel Dewi Lestari, sampul album Iwan Fals, dan film Sinta Obong yang di sutradarai Garin Nugroho karena dianggap melecehkan simbol agama Hindu

Prestasi yang dia banggakan selama ini adalah dinobatkan sebagai doktor termuda dan rektor termuda oleh Museum Rekor Indonesia (MURI). Gelar doktor tersebut diraih di Universitas Mahendradatta yang saat ini dia pimpin.

Nama Wedakarna di Bali semakin ramai diperbincangkan setelah dia menobatkan dirinya sebagai Raja Majapahit Bali dan mengumumkannya dalam media massa di Pulau Dewata.

Sebagai President The Hindu Center of Indonesia, Wedakarna memiliki program ekonomi Satyagraha, yakni ekonomi Hindu untuk Bali berdaulat. Dalam gerakan itu, dia menolak ekonomi syariah dan moratorium bank syariah di Bali. [bbs/tarbiyah]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar