Sponsored by

Sabtu, 24 Februari 2018

Hasil Investigasi Terhadap Pengemis Ini Bikin Satpol PP dan Polisi Terkejut!!!


Epon (50), pengemis kaya yang mengaku asal Cisangkir, Kotabaru Kecamatan Cibeureum, Tasikmalaya, Jabar. ini memiliki uang tunai Rp 43 juta dan perhiasan senilai Rp 15 juta yang dibawanya dalam buntel kain.

Dia merupakan salah satu dari 18 orang yang terjaring razia yang digelar Tim Satuan Sabhara Polres Tasikmalaya Kota dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista) Kecamatan Tawang, Kamis siang (22/2).

Awalnya, petugas tidak menaruh curiga, Epon menyimpan uang cash puluhan juta. Apalagi pengemis kaya raya ini berpenampilan lusuh. Bahkan sempat mengaku bukan pengemis.

Sehingga menolak diangkut ke dalam truk. Namun, akhirnya dia mau naik ke truk Dalmas untuk didata di Kantor Satpol PP.

Dalam proses pendataan itu, petugas sempat penasaran ingin mengetahui isi dalam buntel kain yang dibawa Epon.

Tanpa ada kesulitan, Epon pun berkata jujur bahwa buntel kain itu berisi uang puluhan juga dan perhiasan. Namun, saat diminta memperlihatkan barang tersebut, dia menolak keras.

Alasannya uang tersebut untuk membangun rumah dan perhiasannya untuk pengajian. “Ulah, ieu mah dipake pangajian (Jangan, ini untuk dipakai ke pengajian, Red.),” ungkapnya seraya memelototi petugas.

Petugas pun berupaya melobi. Jurus-jurus persuasif dilakukan. Petugas menjanjikan tidak akan mengambil uang tersebut. Akhirnya, setelah sekitar 15 menit Epon pun mau membuka isi kain tersebut.

Di dalam lipatan kain itu, uang dan perhiasan emas dibungkus pakai plastik yang cukup rapi. Pecahan uang rata-rata Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu. Terdiri dari empat gepok yang diikat tali plastik.

Epon tampak telaten mengamankan harta bendanya itu. Petugas pun kesulitan membukanya. Karena barang berharga tersebut dibungkus lebih dari lima kain. Setiap lapis kain dalam keadaan terikat tali plastik.

Saat buntel kain itu dibuka, tampak ada rasa takut di wajah Epon. Bahkan, perempuan berusia 50 tahun ini buru-buru menutup kembali kain pembungkus uang dan emas itu.

Ketika diajak bicara, Epon memang agak ngawur. Namun dari pengakuan-pengakuannya ada beberapa hal yang bisa didapatkan. Yakni uang sekitar Rp 43 juta dan emas itu adalah hasil mengemis. Bukan mencuri.

Tapi dia tidak menjelaskan bagaimana proses menukarkan uang receh ke pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu.

“Meunang mentaan geus 18 tahun (Hasil minta-minta sudah 18 tahun),” tutur pengemis yang beroperasi di Jalan Otista dan Pasar Cikurubuk ini.

Kasat Sabhara Polres Tasikmalaya Kota AKP Yudiono menjelaskan selain Epon, pihaknya juga mengamankan 17 anak jalanan (anjal), pengemis serta orang gila.

Pihaknya tidak menyangka ada pengemis yang diamankan membawa uang dengan jumlah besar ditambah perhiasan. “Kenapa enggak dia simpan saja uangnya. Enggak perlu dibawa-bawa,” herannya.

Kasi Ketertiban Umum (Tibum) Dinas Satpol PP dan Damkar Kota Tasikmalaya Hendih Junaedi menjelaskan petugasnya mengantar Epon ke rumahnya.

Ternyata pengemis ini tinggal di bangunan permanen yang sangat layak huni. “Rumahnya bagus dan permanen. Jadi dinilai tidak elok kalau dia mengemis,” tuturnya.

Menurut dia, Epon memiliki dua anak yang merupakan pengusaha konveksi dan tikar. Dia merasa aneh kenapa keluarganya tidak bisa menahan Epon supaya tidak mengemis.

“Menurut saya mentalnya sudah di situ (pengemis, Red.). Jadi meskipun punya uang banyak tetap mengemis,” jelasnya.

Bahkan, lanjut dia, petugas Satpol PP yang mengantarkannya pulang malah diberi amplop sebagai tanda terima kasih.

Akan tetapi amplop tersebut ditolak oleh petugas. “Gila saja kalau kita terima amplop itu,” katanya. (rga)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar