Sponsored by

Kamis, 22 Februari 2018

Peredaran Daging Anjing di Medan, "Anjing 4 sampai 10 bulan dengan kondisi mulus dan baik, paling layak untuk dimakan"


Sabtu menjadi hari pasar di Pajak Pancurbatu. Pajak, sebutan pasar di Sumatera Utara, yang berada di tepi Jalan Djamin Ginting, Kabupaten Deliserdang, ini semakin ramai didatangi para pembeli dan pedagang yang berasal dari Kota Medan dan Deliserdang.

Sepanjang jalan masuk, deretan pedagang ayam, bebek dan anak anjing yang menggemaskan memajangkan barang dagangannya. Suasananya bak pasar hewan, riuh suara binatang bercampur bising kendaraan.

Di salah satu sudut pasar, sejumlah pedagang duduk bersama belasan anjing. Anjing-anjing itu tergeletak. Badannya terbungkus karung dan terikat tali.

Seekor anak anjing berwarna coklat yang berumur sekitar dua minggu, baru lepas menyusui, ditawarkan dengan harga Rp 150.000. Saat harganya ditawar hingga Rp 100.000, bibi penjual menunjukkan ekspresi tak suka proses tawar-menawar.

Dia mengatakan, Rp 100.000 adalah untuk anjing yang lebih kecil lagi. Ujung-ujungnya, dia mau mengurangi harga untuk si anak anjing berusia 2 minggu. Harga tengah.

“Tiap hari aku jualan, tapi barang baru ada hari ini. Buka dasar ini, Rp 120.000,” katanya sambil mengambil anak anjing tersebut pada Sabtu pekan lalu.

Sang penjual tiba-tiba bertanya untuk apa anak anjing itu. Dia mengatakan, jika memang membelinya untuk dimakan, dia memiliki harga khusus untuk yang berupa daging.

Dia mengambil ponsel dari dalam tas yang disandangnya, lalu menekan nomor.

”Mau berapa kilo,” tanya dia sambil ponsel masih menempel di telinganya.

"Berapa sekilonya?"

"Rp 50.000," jawabnya.

***

Masih di kawasan Pajak Pancurbatu, tepatnya di Simpang Delitua, semakin banyak anjing yang dijajakan. Tidak ada lagi anak anjing.

Anjing-anjing dengan tinggi badan mulai 30 sentimeter sampai 1 meter berjejal di dalam kandang-kandang yang terbuat kawat atau besi. Mereka sibuk menggonggong keras, mencoba keluar dari kandang sempitnya.

Seorang pedagang yang berdiri di samping kandang langsung memukul bagian atas kandang. seketika senyap suara salakan untuk sementara. Beberapa menit kemudian, gonggongan kembali terdengar.

Semakin masuk ke dalam pasar, pemandangan puluhan anjing, besar dan kecil, dengan mulut, leher dan kaki terikat semakin banyak. Sebagian anjing dimasukkan ke dalam karung bekas pupuk, tinggal kepalanya saja yang menyembul.

Mereka tergolek dan terikat, tapi tetap meronta-ronta dan berupaya menggonggong. Namun suaranya lebih mirip erangan.

Pandangan mata mereka kerap bertabrakan dengan mata para calon pembeli yang melintas. Nanar dan mengharap belas kasihan.

Tiga perempuan dengan rahang tegas duduk di antara anjing-anjing itu. Tak jauh dari mereka, ada timbangan duduk berkapasitas 100 kilogram.

Para pria yang terlihat di situ sibuk menimbang dan mengikat anjing-anjing yang terus menggonggong dan meronta.

Beberapa anjing terkulai lemas, matanya setengah tertutup.

Seekor anjing berwarna coklat terus berupaya menyalak meski mulutnya terikat tali plastik. Saat kepalanya dielus, salakan yang lebih mirip erangan itu pun berhenti sejenak.

Bibi penjual memperhatikan dengan tatapan curiga.

"Haus dia kali, enggak dikasi minum, Bi?"

"Dikasinya minum, nantilah," ucap bibi pedagang itu.

"Berapa harganya ini?"

"Rp 40.000 sekilo. Baik ini, tapi sudah enggak enak dimakan. Sudah 2,5 tahun umurnya. Bagusnya untuk jaga kebun aja, tapi kalau mau dimakan, ya bisa juga," katanya.

Ketika ditanya apakah mereka menjual anak anjing untuk dimakan, tiga perempuan itu menggeleng. Salah satu dari mereka lalu mengatakan, mereka menerima semua jenis anjing, berbagai ukuran, tapi tidak bayi anjing.

Seekor anjing berumur sekitar 4 sampai 10 bulan dengan kondisi mulus dan baik, lanjut pedagang itu, adalah yang paling layak untuk dimakan.

Biasanya, di tempat itu, setiap ekor anjing layak makan ini dibanderol dengan harga mulai Rp 200.000 sampai Rp 300.000 per ekor.

Harganya jauh lebih mahal dibandingkan anjing yang berumur lebih dari setahun atau induk yang sudah beberapa kali melahirkan. Anjing jenis ini hanya dihargai mulai Rp 40.000 sampai Rp 50.000 per kilogram.

Sang penjual lalu bercerita, mereka menerima pasokan barang dagangan dari berbagai orang, baik pengepul maupun orang per orang yang mau menjual anjingnya. Kebanyakan anjing yang mereka dapat berasal dari kawasan Kota Medan.

"Anjing-anjing ini dari Medan, mau dibawa ke gunung (kampung). Ini tinggal nunggu diangkut. Bentar lagi datang mobilnya," kata pedagang berbaju merah sambil menunjuk tumpukan anjing-anjing yang pasrah.

Tiba-tiba seekor anjing berbulu putih yang bulu-bulunya basah seperti baru tersiram air menyita perhatian mereka. Kaki, tangan dan mulutnya sudah terikat.

Namun, anjing itu terlihat garang dan sangat marah saat tubuhnya diletakkan di atas timbangan. Matanya merah dan dia terus menggonggong dan menggeram.

"Itu anjing rabies kan? Matanya merah dan garang kali,"

"Enggaklah, kami enggak jual anjing rabies. Kalau dijual, habislah kami semua digigitin. Siapa yang mau megang anjing rabies," jawab salah satu bibi pedagang.

Lalu dia menuturkan, setiap hari mereka berjualan anjing, namun tidak setiap hari pula ada anjing yang terjual. Sementara itu, pada hari Sabtu, menurut dia, para pengepul anjing berdatangan dari berbagai penjuru untuk menjual anjing lagi kepada mereka.

Selama ini, lanjut bibi penjual, kebanyakan pembelinya adalah pemilik rumah makan dan lapo tuak (kedai penjual makanan khas Batak) yang menyediakan menu serta tambul daging anjing, atau yang biasa disebut biang atau B1 di Sumatera Utara.

Dia lalu menegaskan bahwa anjing-anjing itu selalu dijualnya dalam keadaan hidup. Kalau dalam perjalanan ke pasar ada anjing yang mati, maka bangkainya dibuang karena tidak laku lagi.

"Kalau mati dibuang, kami enggak jual bangkai anjing, harus hidup," ucapnya.

Selain di Pajak Pancurbatu yang letaknya di luar Kota Medan, di tengah Kota Medan, daging anjing juga dijual di Pajak Sambu. Hanya saja, tidak lazim anjing hidup yang dijual di pajak ini.

Pajak daging yang letaknya tepat di belakang pos polisi Terminal Sambu, Kelurahan Gang Buntu, Kecamatan Medan Timur, hanya menjual daging anjing dan babi potong saja.

Daging-daging anjing dijual di depan kompleks ruko tua yang kusam dan kotor. Dua pria pedagang daging babi menggelar dagangannya sambil mengibas-ibaskan plastik di atas tumpukan daging untuk mengusir lalat.

Sementara itu, lapak di sebelahnya sudah kosong. Itu adalah lapak pedagang daging anjing. Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan daging anjing di pasar ini. Dalam dua jam, daging anjing biasanya sudah ludes. Biasanya laku kepada para pelanggan.

“Lama kali kakak datangnya. Dia dari subuh paling lama sampai jam 10 di sini. Itu pun langsung habis. Tinggal telepon-telepon aja, orang berdatangan. Beli sop anjing ajalah atau ini, daging babi aja,” kata seorang pedagang daging babi sambil merayu.

Daging anjing di pasar ini dijual Rp 50.000 sampai Rp 60.000 per kilogram. Tidak ada pemotongan anjing di tempat ini.

“Daging anjing datang dalam keadaan sudah bersih dan dipotong-potong,” ucapnya.

***

Di Medan, berbagai rumah makan dan lapo tuak yang menyajikan hidangan daging anjing tersebar, mulai dari kawasan Amplas, Helvetia, Marelan, Belawan, hingga Jalan Medan-Binjai. Di jalan keluar dari Medan, di sepanjang Jalan Tanjung Morawa sampai masuk Perbaungan, juga tersaji.

Di sepanjang Jalan Djamin Ginting atau yang terkenal dengan sebutan kawasan Padang Bulan, Medan, hampir di setiap tepi jalan ada warung makan dengan plang nama bertuliskan "sedia babi atau B2 dan B1 panggang, saksang, lomok-lomok, kidu-kidu dan sop anjing".

(kompas)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar